Senin, 08 April 2019

KONSERVASI KAWASAN ( SETU BABAKAN)


A.          PENDAHULUAN SEJARAH KAWASAN
Kebudayaan dan Betawi sangat mendesak untuk dilestarikan. Kurangnya kesadaran warga Jakarta dan derasnya pembangunan fisik di Ibu Kota negara ini mempersempit ruang gerak dan tumbuh kembang seni budaya Betawi. Budaya Betawi dalam kondisi siaga satu.  Pembangunan Jakarta saat ini masuk pada era modern dan kencangnya budaya internasional mengikis seni tradisional ditambath dengan faktor lain seperti makin sempitnya ruang Jakarta yang berubah menjadi pemukiman Apartemen, sehingga mempersempit seni budaya betawi untuk tumbuh dan berkembang.
Sudah lama Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan dikenal sebagai sebuah cagar budaya Betawi. Kawasan seluas 32 hektar ini sebenarnya merupakan perkampungan masyarakat Betawi di Jakarta.  Setu Babakan sendiri sudah ditetapkan menjadi cagar budaya Betawi sejak 17 tahun lalu, tepatnya pada 18 Agustus 2000. Setu Babakan menjadi pusat budaya Betawi ini ditetapkan lewat Peraturan Gubernur No. 9 tahun 2000. Setelah Pergub tersebut terbit, Gubernur DKI Jakarta kala itu, Sutiyoso mulai mempersiapkan Setu Babakan menjadi kawasan istimewa bernuansa budaya Betawi.         
Hanya saja, dulunya Setu Babakan bukanlah pilihan satu-satunya yang bersaing jadi cagar budaya Betawi. Ketua Bidang Pemuda Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi, Muhammad Ikhsan mengatakan, Setu Babakan bukanlah opsi pertama pemerintah provinsi DKI Jakarta yang ingin membuat cagar budaya Betawi.  Kala itu, kata Ikhsan, Pemprov DKI berencana membangun cagar pelestarian budaya betawi di daerah Condet, Jakarta Timur. Namun, budaya Betawi di Condet dinilai sudah mulai luntur karena perkembangan zaman dan banyaknya pendatang.
Meski saat itu semua perhatian untuk pembangunan cagar budaya Betawi sudah jatuh pada Setu Babakan, namun itu tak berarti Setu Babakan mendadak berubah menjadi cantik dan istimewa.
Setu Babakan sendiri tidak langsung bersolek megah seperti sekarang. Ikhsan mengungkapkan bahwa kala itu Pemprov DKI Jakarta memberikan lahan dan uang terlebih dahulu kepada masyarakat setempat untuk membangun rumah-rumah khas Betawi di kawasan Setu Babakan.  Sejak itu, Pemprov DKI Jakarta semakin memantapkan niatnya untuk membangun suatu kawasan yang bernuansa Betawi. Kemudian pada 2004, Gubernur Sutiyoso meresmikan Setu Babakan sebagai kawasan cagar budaya Betawi.
Tujuan penetapan Perkampungan Budaya Betawi adalah untuk membina dan melindungi secara sungguh-sungguh dan terus menerus tata kehidupan serta nilai-nilai budaya Betawi, menciptakan dan menumbuhkembangkan nilai-nilai seni budaya Betawi sesuai dengan akar budayanya, menata dan memanfaatkan potensi lingkungan fisik baik alami maupun buatan yang bernuansa Betawi, mengendalikan pemanfaatan lingkungan fisik dan non fisik sehingga saling bersinergi untuk mempertahankan ciri khas Betawi (Pengelola, Perkampungan Budaya Betawi, 2012).
Berdasarkan tujuan yang ditetapkan di dalam kebijakan tersebut, diharapkan kedepannya dapat berkembang tidak saja sebagai pusat pengembangan budaya Betawi, tetapi dapat menjadi salah satu obyek wisata yang menarik dan menjadi andalan khususnya untuk kotamadya Jakarta Selatan. Saat ini, kawasan wisata Perkampungan Budaya Betawi terbagi atas tiga jenis atraksi wisata yaitu wisata air, wisata agro dan wisata budaya. Jenis atraksi wisata air yang dapat dilakukan di kawasan wisata Perkampungan Budaya Betawi antara lain pemancingan, dayung perahu dan olahraga air. Sedangkan wisata agro yaitu bercocok tanam berbagai tanaman tropis, cara pengelolaan lahan untuk budi daya umbi-umbian, cara pembuatan gulamerah kelapa dan lain-lain. Dan atraksi wisata yang terakhir juga sangat menarik  adalah wisata budaya yaitu pagelaran seni baik musik, tarian maupun teater Betawi. Selain itu juga ada atraksi upacara kebudayaan Betawi seperti upacara pernikahan, sunatan, aqiqah, khatam Qur’an dan nujuh bulanan. Pihak pengelola telah menyediakan fasilitas Home stay sebanyak 67 unit rumah adat untuk wisatawan yang ingin merasakan aktivitas tradisional masyarakat Betawi. Beragam kegiatan yang ada di Perkampungan Budaya Betawi layak di tonton dan dinikmati langsung karena mengandung nilai-nilai tradisional.

Menurut Yoeti (1982) dalam Yanuarizki (2013), motivasi wisatawan untuk mengujungi suatu obyek wisata yaitu ingin mengetahui lebih mendalam tata cara hidup, adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat serta mempelajari seluk beluk adat istiadat itu sendiri. Sehingga wisatawan yang berkunjung ke Perkampungan Budaya Betawi dapat menyaksikan dari dekat budaya masyarakat Betawi. Kawasan wisata Setu Babakan diharapkan dapat menjaga dan melestarikan tradisi Budaya Betawi seperti seni musik, seni tari dan teater tradisional, seni bela diri, kuliner dan sebagainya. Selain itu juga, masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang yang tinggal disekitar kawasan tersebut ikut berpartisipasi menjaga keutuhan budaya Betawi.
Adanya berbagai kegiatan di kawasan ini membuat peluang masyarakat dalam bidang ekonomi pun menjadi terbuka dan membuat masyarakat sekitar melakukan alternatif pekerjaan untuk menambah penghasilan rumah tangga mereka. Dan, dengan penetapan obyek wisata Setu Babakan sebagai kampong Betawi, masyarakat dapat menjaga, melestarikan dan mempertunjukkan keanekaragaman kebudayaan Betawi.

B.                 Telaah Pustaka
a.       Budaya Betawi
Istilah budaya berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian hakikat budaya diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.           
Budaya merupakan suatu cara hidup yang terbentuk dari banyak unsur yang rumit (agama, politik, adat istiadat, bahasa, seni, dll) dan berkembang pada sebuah kelompok orang atau masyarakat. Budaya sering kali dianggap warisan dari generasi ke generasi dan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.
Istilah kebudayaan berasal dari kata dasar budaya sehingga memiliki keterkaitan makna. Kebudayaan merupakan hasil dari budaya yaitu hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Kebudayaan menunjuk kepada berbagai aspek kehidupan meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu.
Masyarakat Betawi adalah masyarakat yang berada di Indonesia diseluruh wilayah DKI Jakarta, sebagian besar wilayah Bekasi, sebagian wilayah Bogor, sebagian Kecamatan Batu Jaya di Kecamatan Karawang dan sebagian wilayah tanggerang. Menurut Selo Soemardjan menjelaskan bahwa yang dimaksud masyarakat adalah manusia yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian tak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan. Sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah pendahulunya. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama untuk melakukan kegiatan bagi kepentingan bersama atau sebagian besar hidupnya berada dalam kehidupan budaya, dalam hal ini budaya Betawi yang wilayah geografiknya berada di Jakarta.
Masyarakat atau Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalusecara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis dan bangsa.  Berikut unsur-unsur budaya Betawi.
               1.                  Bahasa
          Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah BahasaIndonesia dialek Betawi.
             2.                  Kesenian
Dalam bidang kesenian orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong.
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tiongkok, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil perkawinan antaretnis dan bangsa di masa lalu.
3.                  Kepercayaan
 Orang Betawi sebagian besar menganut agama Islam, tetapi yangmenganut agama Kristen; Protestan dan Katholik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.
4.                  Profesi
Masyarakat Betawi sebelum era pembangunan orde baru, terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masingmasing. Semisal di kampung Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kemboja jepang, dan lain-lain). Dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan pendidik. Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga Kemanggisan .
5.  Perilaku
Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial merekasangat tinggi, walaupun terkadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.

b.      Pengertian Cagar Budaya
Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. (UURI No. 11 Tahun 2010)
      Berdasarkan Undang-Undang bahwa Cagar Budaya adalah warisan budaya yang bersifat kebendaan atau yang biasa disebut dengan bersifat tangible. Artinya bahwa warisan budaya yang masuk ke dalam kategori Cagar Budaya adalah warisan budaya yang berwujud konkrit, dapat dilihat dan diraba oleh indra, mempunyai massa dan dimensi yang nyata baik yang terdapat di darat dan / atau di bawah air. Contohnya batu prasasti, candi, nisan makan, dll. Warisan budaya yang bersifat intangible seperti bahasa, tarian dan sebagainya tidak termasuk pada kategori Cagar Budaya.  Cagar Budaya juga termasuk warisan budaya bersifat kebendaan yang terdapat di darat dan/atau di air.
      Sesuatu dapat dikatakan Cagar Budaya jika memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Kata penghubung “dan/atau” bermakna tidak berlaku komulatif. Artinya kelima nilai penting tersebut boleh dimiliki seluruhnya atau salah satu oleh suatu Cagar Budaya. Penentuan nilai penting ini dilakukan berdasarkan kajian mendalam oleh Tim Ahli Cagar Budaya dibantu oleh lembaga yang berhubungan dengan kebudayaan.  Suatu benda dapat dikatakan Cagar Budaya jika sudah melalui proses penetapan oleh pihak berwenang yaitu, pemerintah kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi dari Tim Ahli Cagar Budaya tingat kabupaten/kota. Tanpa proses penetapan suatu warisan budaya yang memiliki nilai penting tidak dapat dikatakan sebagai Cagar Budaya.

c.       Konservasi Arsitektur
Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu Conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan. Konservasi merupakan suatu upaya yang dapat menghidupkan kembali vitalitas lama yang telah pudar. Konservasi arsitektur adalah penyelamatan suatu obyek/bangunan sebagai bentuk apreasiasi pada perjalanan sejarah suatu bangsa, pendidikan dan pembangunan wawasan intelektual bangsa antar generasi. Termasuk upaya konservasi bangunan kuno dan bersejarah. Peningkatan nilai-nilai estetis dan historis dari sebuah bangunan bersejarah sangat penting untuk menarik kembali minat masyarakat untuk mengunjungi kawasan atau bangunan tersebut. Sebagai bukti sejarah dan peradaban dari masa ke masa. Upaya konsevasi bangunan bersejarah dikatakan sangat penting. Selain untuk menjaga nilai sejarah dari bangunan, dapat pula menjaga bangunan tersebut untuk bisa dipersembahkan kepada generasi mendatang.
          Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan sejarah dan budaya. Tentu tidak sedikit bangunan bersejarah yang menyimpan cerita-cerita penting dan tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Bahkan hampir di setiap daerah mempunyai bangunan bersejarah yang dijadikan sebagai identitas dari daerah tersebut. Namun, menurut yang dikemukakan oleh Budihardjo (1985), bahwa arsitektur dan kota di Indonesia saat ini banyak yang menderita sesak nafas. Bangunan-bangunan kuno bernilai sejarah dihancurkan dan ruang-ruang terbuka disulap menjadi bangunan. padahal menghancurkan bangunan kuno bersejarah sama halnya dengan menghapuskan salah satu cermin untuk mengenali sejarah dan tradisi masa lalu. Dengan hilangnya bangunan kuno bersejarah, lenyaplah pula bagian sejarah dari suatu tempat yang sebenarnya telah menciptakan suatu identitas tersendiri, sehingga menimbulkan erosi identitas budaya (Sidharta dan Budhihardjo, 1989). Oleh karena itu, konservasi bangunan bersejarah sangat dibutuhkan agar tetap bisa menjaga cagar budaya yang sudah diwariskan oleh para pendahulu kita.
Bangunan cagar budaya dikelompokan menjadi 4 golongan A, B, C, dan D. Bangunan cagar budaya kelas A adalah bangunan yang harus dipertahankan sesuai bentuk aslinya. Kelas B adalah bangunan cagar budaya yang dapat dipugar dengan cara restorasi. Kelas C dapat diubah dengan tetap mempertahankan tampak bangunan utama. Kelas D dapat dibongkar dan dibangun seperti semula, karena kondisinya membahayakan penghuni dan lingkungan sekitarnya. Secara detail, berdasarkan Perda DKI Jakarta No.9/ 1999 Pasal 10 ayat 1, bangunan cagar budaya dibagi menjadi sebagai berikut:
1.      Golongan A
            Pemugaran bangunan pada golongan ini merupakan upaya preservasi berdasarkan ketentuan sebagai berikut (Perda DKI Jakarta no.9/ 1999 Pasal 19):
·         Bangunan dilarang dibongkar dan atau diubah.
·         Apabila kondisi bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak dapat dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya.
·         Pemeliharaan dan perawatan bangunan harus menggunakan bahan yang sama/ sejenis atau memiliki karakter yang sama, dengan mempertahankan detail ornamen bangunan yang telah ada.
·         Dalam upaya revitalisasi dimungkinkan adanya penyesuaian/ perubahan fungsi sesuai rencana kota yang berlaku tanpa mengubah bentuk bangunan aslinya.
2.      Golongan B
            Pemugaran bangunan golongan ini merupakan upaya preservasi dengan ketentuan sebagai berikut (Perda DKI Jakarta no.9/ 1999 Pasal 20):
·         Bangunan dilarang dibongkar secara sengaja dan apabila kondisi fisik bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak dapat dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya.
·         Pemeliharaan dan perawatan bangunan harus dilakukan tanpa mengubah pola tampak depan, atap dan warna, serta dengan mempertahankan detail dan ornamen bangunan yang penting.
·         Dalam upaya rehabilitasi dan revitalisasi dimungkinkan adanya perubahan tata ruang dalam asalkan tidak mengubah struktur utama bangunan.
·         Di dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan adanya bangunan tambahan yang menjadi suatu kesatuan yang utuh dengan bangunan utama.
3.      Golongan C
            Pemugaran bangunan golongan ini merupakan upaya rekonstruksi dan adaptasi dengan ketentuan sebagai berikut (Perda DKI Jakarta no.9/ 1999 Pasal 21):
·      Perubahan bangunan dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan pola tampak muka, arsitektur utama dan bentuk atap bangunan.
·      Detail rnament dan bahan bangunan disesuaikan dengan arsitektur bangunan disekitarnya dalam keserasian lingkungan.
·      Penambahan bangunan di dalam perpetakan atau persil hanya dapat dilakukan di belakang bangunan cagar budaya yang harus sesuai dengan arsitektur bangunan cagar budaya dalam keserasian lingkungan.
·      Fungsi bangunan dapat diubah sesuai dengan rencana kota.
·      Pemanfaatan Kembali Bangunan Cagar Budaya.


Sumber : Sekararum, Natrisya. 2017. "Dampak Obyek Wisata Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Terhadap Kondisi Ekonomi Dan Budaya Masyarakat Betawi". Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/pengertian-cagar-budaya-berdasarkan-undang-undang-cagar-budaya/
https://rickyhendrianto.files.wordpress.com/2012/07/makalah-sosiologi2.pdf
http://egardanoza.blogspot.com/2018/07/konservasi-arsitektur-konservasi.html

Sabtu, 19 Januari 2019

Green School, Bali

Green School (2005)
Karya PT Bambu
Bali, Indonesia 


Green School
(https://www.jawapos.com/features/15/10/2016/green-school-bali-sekolah-alam-yang-bikin-penasaran-ban-ki-moon)

Green School berlokasi di Banjar Saren, Desa Sibang Kaja, Abiansemal, Badung. sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Denpasar. Sekolah alam ini didirikan oleh John Hardy, yang bertujuan untuk mengembangkan institusi Indonesia yang mampu meningkatkan pemimpin-pemimpin yang peka terhadap lingkungan di masa depan. Berbeda dengan sekolah pada umumnya yang memiliki batas-batas nyata secara fisik terhadap ruang-ruang belajar siswa, bangunan karya PT Bambu ini terbuka dengan alam dengan bambu sebagai struktur utama yang dirangkai untuk menaungi aktivitas belajar siswa dari kondisi alam dan geografis daerah tersebut. Ruang-ruang tanpa sekat sengaja dikondisikan sehingga siswa bisa benar-benar merasakan alam dalam proses pembelajaran mereka. 

Green School Bali
https://facebook.com/greenschool/

Sekalipun secara fisik Green School benar-benar berbanding terbalik dengan sekolah formal yang dikenal khalayak umum, namun sarana dan prasarana sekolah tetap ditunjang dengan baik sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 24 Tahun 2007 dimana setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Sekolah ini menunjukan bagaimana kualitas pendidikan dipegang teguh dan tidak dibatasi oleh batasan-batasan ruang sekalipun.

Source:
https://www.jawapos.com/features/15/10/2016/green-school-bali-sekolah-alam-yang-bikin-penasaran-ban-ki-moon/
http://bsnp-indonesia.org/standar-sarana-dan-prasarana/

Senin, 26 November 2018

Kritik Interpretif Rumah Panda

© Susan A. Mainka / WWF
Objek : Panda House
Arsitek : BIG Architects
Location  : Copenhagen Zoo, Denmark

Sekalipun berukuran cukup besar, Panda merupakan salah satu binatang yang dianggap lucu dan imut oleh banyak orang hingga banyak sekali pernak pernik bergambar panda seperti pada animasi produksi Cartoon Network “We Bare Bear” yang animasi dan merchandise nya laris manis  oleh anak-anak hingga orang dewasa.    Rupa panda yang imut dengan mata yang tampak besar,  tingkah yang menggemaskan dan juga jarang ditemukan merupakan beberapa alasan Panda mudah disukai semua kalangan.

Habitat asli panda sendiri awalnya tersebar  dari daerah Timur sampai Selatan China, termasuk juga sekitar Myanmar dan area utara dari Vietnam.  Namun dari masa ke masa wilayah habitat panda mengecil hingga hanya terdaoat 20 area sekitar Provinsi Sichuan, Shaanxi dan Gansu, China yang memiliki lahan-lahan bamboo dan area yang berbukit dan bergunung-gunung.  Di negara tirai bambu sendiri panda banyak dianggap sebagai lambang keberuntungan, pertemanan dan juga kedamaian.  Panda juga sering dihubungkan oleh lambing Yin dan Yang dikarenakan warna hitam putih  dan juga sikap nya yang tenang, menjadi demonstasi Yin dan Yang yang kontras dan menemukan harmonisasi dan kedamaian ketika seimbang.  

Salah satu projek arsitektur yang berkaitan dengan panda ialah Panda’s House yang terletak di Kebun Binatang Copenhagen, di Denmark  dirancang oleh arsitek Bjarke Ingels Group (BIG) pada tahun 2017.  Rumah panda ini menampung 2 panda dengan gender yang berbeda.   Aspek-aspek dari panda inilah yang menjadi pertimbangan dalam rancangan Panda’s House.

https://big.dk/#projects-pan

BIG mengambil Filosofi Yin dan Yang dalam pendekatan desainnya.  Pola Yin dan Yang dapat dengan jelas terlihat juga menjadi area pemisah antara panda jantan dan panda betina dengan tujuan mempermudah pada musim kawin panda.  Panda jantan dan betina perlu memliki jarak atau pembatas selama diluar masa kawin.  Pola Yin dan Yang ini juga diolah dengan baik sehingga dapat menyediakan area bergerak yang baik dan juga dilengkapi oleh vegetasi dan kontur tanah yang menyerupai kondisi asli habitat panda, yaitu tanah berkontur dan juga kelompok hutan bambu.  Tidak hanya itu, perancangan rumah panda ini juga menarik mata pengunjung yang dapat menikmati pemandangan aktivitas panda baik dari “atas” ataupun dari “bawah” yaitu melalui kaca di area restaurant kebun binatang.

https://big.dk/#projects-pan


https://big.dk/#projects-pan

Dapat disimpulkan desain dari Rumah Panda di Kebun Binatang Copenhagen ini amatlah menarik dari bagaimana arsitek BIG dapat merancangnya dengan memenuhi aspek-aspek krusial dari rumah panda dengan proses desain yang sederhana, tidak berbelit, dan logis namun tetap unik dan menarik mata pengunjung tidak hanya pada Panda itu sendiri tapi juga pada sisi desain nya. 

Source

Minggu, 28 Oktober 2018

3 Dari 9 Analogi Arsitektur



9 Analogi arsitektur menurut Wayne O. Attoe ialah:
1. Analogi Matematika
2. Analogi Biologis
3. Analogi Romantis
4. Analogi Bahasa atau Linguistik
5. Analogi Mekanik
6. Analogi Pemecahan Masalah
7. Analogi Adhocis
8. Analogi Bahasa Pola
9. Analogi Dramaturgi

ANALOGI BIOLOGIS didasari pada prinsip Arsitektur Organik. Filosofi arsitektur organik diperkenalkan dan dikembangkan oleh Frank Lloyd Wright. Pada awal 1908, arsitek Frank Lloyd Wright, merupakan orang pertama yang menggunakan istilah 'organik arsitektur,' mulai menjelaskan filsafatnya organik arsitektur. Istilah “arsitektur organik” itu sendiri diciptakan oleh arsitek Frank Lloyd Wright (1867-1959) pada sebuah artikel di Architectural Record, agustus 1914 untuk menjelaskan filosofi dari gaya arsitekturnya. Visinya adalah bagi arsitek dan desainer untuk meninggalkan gaya tradisi mereka pelajari dan menganut desain terbentuk oleh alam dari bahan-bahan komponen, yang selaras dengan pemandangan disekitarnya. Dia ingin mereka membayangkan bentuk dan fungsi sebagai kesatuan, elemen yang saling berhubungan. di antara banyak struktur terkenal yang dirancang oleh Wright.

Turning Torso - Santiago Calatrava











F. Turning Torso, Swedia – Santiago Calatrava Menara ini mengambil analogi dari pergerakan tubuh manusia, yaitu bentuk tulang belakang yang dipilin. Dengan analogi seperti itu, menara ini memberi pembelajaran mengenai ‘movement’ dan ‘structure’. “… The very idea of a structure is synonymous with stability, statis and rigid organisation of elements in space.” (Tzonis&Lefaivre, 1995:10) Dari kutipan pernyataan diatas tergambarkan bahwa struktur itu adalah sesuatu yang sifatnya statis dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan pergerakan. Bahkan struktur seakan menetralkan pergerakan itu sendiri. Namun, Calatrava sadar bahwa didalam struktur itu sendiri terdapat movement yang tidak dapat dihindarkan lagi pasti akan terjadi. Walaupun tampaknya ‘immobile’ atau tidak dapat bergerak, sebenarnya struktur itu sendiri berada pada suatu pergerakan yang konstan. Analogi tulang belakang pada Turning Torso Pada rancangan Turning Torso yang mengambil analogi tulang belakang manusia, bila dilihat secara struktur, tulang belakang manusia sangat memungkinkan terjadinya pergerakan, namun masih tetap dapat menjadi struktur yang kokoh dan bertahan hingga sekarang. Struktur ini kemudian dituangkan kedalam bentuk sketsa dan model sebagai cara pengeksplorasian bagaimana cara struktur itu bekerja dan tersusun dari bagian-bagian apa saja hingga akhirnya menjadi sebuah objek bangunan. Pada tahap awal pemodelan, Calatrava menyusun beberapa balok persegi sedemikian mungkin disekitar baja penopang untuk menemukan wujud spiral yang mendekati bentuk tulang belakang manusia yang dipilin.

ANALOGI ROMANTIK. Arsitektur harus mampu menggugah tanggapan emosional dalam diri si pengamat. Hal ini dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan menimbulkan asosiasi (mengambil rujukan dari bentuk-bentuk alam, dan masa lalu yang akan menggugah emosi pengamat) atau melalui pernyataan yang dilebih-lebihkan (penggunaan kontras, ukuran, bentuk yang tidak biasa yang mampu menggugah perasaan takut, khawatir, kagum dan lain-lain).

Contemporary Arts Center (CAC) - Zaha Hadid


CAC memiliki analogi romantik karena bentuknya yang dinamis seperti puzzle dengan perbedaan level. Tingkat kompleksitas dan kontradiksi bangunan ini cukup tinggi dibanding sekitar, hal ini merupakan salah satu indikator bahwa CAC bangunan post-modern.
Bangunan post-modren ini dikelilingi oleh gedung-gedung bergaya modern yang bentuknya cenderung kotak-kotak dan statis, sehingga CAC yang berkomposisi linear horisontal terlihat menonjol dan dinamis, dimana ke-dinamis-an yang terlihat merupakan hasil dari permainan ruang dalam yang kemudian mempengaruhi fasade luar.  CAC menerapkan salah satu teori Wtelo yakni ‘difanitas’ atau kesemrawangan. Penerapannya pada dinding transparan yang materialnya berupa kaca.
Sebagai bangunan yang beraliran post-modern, CAC masih kontekstual yang diimplementasikan pada variasi bentuk yang meerupakan perpaduan antara bangunan modern (bangunan lama) dan post-modern (CAC). CAC merupakan salah satu bangunan yang menerapkan tekonlogi yang cukup maju. Hal ini dapat dilihat pada konstruksi ruang galeri yang seolah-olah melayang di atas ruang lobi, penggunaan kantilever-kantilever, dan fasade samping yang multi-level.

ANALOGI LINGUISTIK

Analogi linguistik menganut pandangan bahwa bangunan-bangunan dimaksudkan untuk menyampaikan informasi kepada para pengamat dengan salah satu dari tiga cara sebagai berikut :

a. Model Tata bahasa

Arsitektur dianggap terdiri dari unsur-unsur (kata-kata) yang ditata menurut aturan (tata bahasa dan sintaksis) yang memungkinkan masyarakat dalam suatu kebudayaan tertentu cepat memahami dan menafsirkaa apa yang disampaikan oleh bangunan tersebut. lni akan tercapai jika ‘bahasa’ yang digunakan adalah bahasa umum/publik yang dimengerti semua orang (langue).

b. Model Ekspresionis

Dalam hal ini bangunan dianggap sebagai suatu wahana yanng digunakan arsitek untuk mengungkapakan sikapnya terhadap proyek bangunan tersebut. Dalam hal ini arsitek menggunakan ‘bahasa’nya pribadi (parole). Bahasa tersebut mungkin dimengerti orang lain dan mungkin juga tidak.

c. Model Semiotik

Semiologi adalah ilmu tentang tanda-tanda. Penafsiran semiotik tentang arsitektur menyatakan bahwa suatu bangunan merupakan suatu tanda penyampaian informasi mengenai apakah ia sebenarnya dan apa yang dilakukannya. Sebuah bangunan berbentuk bagaikan piano akan menjual piano. Sebuah menara menjadi tanda bahwa bangunan itu adalah gereja.

Church Of Light - Tadao Ando



Analogi yang digunakan adalah dari upacara minum the Jepang yang disebut sukiya, dimana pada upacara itu orang akan duduk dalam keheningan dan memungkinkan untuk mengantarkan pada sebuah kontemplasi. Tadao Ando merefleksikan kualitas silent dan kontemplasi ini ke dalam ruang-ruang yang dirancangnya. Kesan hening diwujudkan dengan penggunaan material beton ekspos yang berkesan diam dan memanfaatkan cahaya alami untuk memperkuat kesan hening dengan hanya memasukkan beberapa berkas cahaya saja ke dalam ruang.


Sumber

Minggu, 01 Juli 2018

"Desa" di Tengah Kota, Namsangol Hanok Village



Kuliah Lapangan Arsitektur kali ini saya kedapatan jatah ke Korea, dan kita melakukan pengamatan di Namsangol Hanok Village. Namsangol Hanok Village ini merupakan sebuah desa buatan, karena desa ini tidaklah dihuni oleh penduduk manapun, melainkan benar-benar ditujukan menjadi tujuan wisata yang mempertunjukan bangunan ataupun konsep desa tradisional Korea dimasa lalu.    Dan pada pengamatan ini,saya mendapat jatah untuk mengamati pada landscape dari area Namsangol Hanok Village ini.

Sejak awal kita memasuki tempat ini, amat terlihat bahwa Sirkulasi kendaraan terbatas.  Kendaraan tidak dapat masuk ke wilayah Namsan Village ini. Dan tersedia beberapa lahan parkir sebelum memasuki Namsan Village. Dari lahan parker tersebut terdapat pintu entrance yang besar, dengan lahan yang luas.  Pejalan kaki sangat dimanjakan dengan start lahan pedestrian yang luas dan juga memberikan view keseluruhan yang baik bahkan saat kita baru memasuki Namsan Village.  Pengunjung dapat membayangkan baik  bahwa seperti inilah desa-desa tradisional korea di masa lalu.

Jalur-jalur pedestrian yang ada sangat mengakomodasi para pengunjung, dengan lebar mencapai 5 m.  Selain itu jalur sirkulasi banyak memiliki percabangan yang memberikan banyak pilihan kepada pengunjung untuk memilh spot-spot yang ingin dikunjungi.  Tapi tidak perlu khawatir tersesat, karena secara makro jalur pedestrian di Namsan Village ini bersifat melingkar, jadi mudah untuk mencari jalan pulang.  Selain itu jalur pedestrian di sini banyak mengelilingi gazebo ataupun pavilion jadi pengunjung dapat mengamati spot-spot tersebut dari berbagai sudut. 


Sekeliling Namsangol Hanok Village banyak dikelelilingi pohon2 berdaun jarang, sehingga menjadi filter yang baik dan juga memberi keindahan tersendiri dalam view menuju bangunan ditambah lagi 
banyak vegetasi2 di sekeliling site yang berwarna warni, hijau, kuning, orange.  Selain itu Landscape nya banyak memiliki  monument/patung2 batu yang cukup besar sehingga dapat menyeimbangkan vegetasinya.

Dalam site ini, terdapat banyak ruang terbuka berupa landscape seperti pavilion, gazebo dengan kolam2. Kolam yang terdapat di pavilion ini sangat khas style Asia nya.  Dengan bebatuan yang mengelilingi kolam, ikan koi, dengan bentangan yang luas dan lapang sehingga dapat memberikan aura tenang saat menikmati kolam, baik dari jalur pedestrian di sekeliling kolam maupun dari pavilion di sebelahnya.  Jalur pedestrian memiliki lebar 2-3 meter sehingga dapat menampung orang-orang yang melintas dalam 2 arah.   Di masa lalu, jalur pedestrian ini biasanya dipakai oleh pemilik rumah untuk menikmati kolam tersebut.

Selain Kolam yang datar, element air pada landscape yang terdapat di Namsan berupa sunga-sungai kecil dengan air terjun kecil memberikan suara air mengalir dan beriak yang juga memberikan efek kesegaran dan ketenangan  dan keteraturan di sekitar sungai tersebut.   Dari penglihatan, kolam/sungai tidak memliki kedalaman yang dalam.  Dan pada dasarnnya banyak diaplikasikan tanaman2 air dan juga batu2 kali/kolam.  Sungai2 tersebut juga dikelilingi oleh batu2 kali besar dan sentuhan rerumputan yang memberikan kesan alami.  Pada kolam yang rata pun,  mereka sering menimbulkan sound effect air dengan menaruh kincir air pada kolam yang rata. Selain efek ketenangan, elemen2 air banyak menimbulkan mirror efek pada bangunan ataupun vegetasi2 di sekitarnya.  Another plus point for the view. 

Site nya berkontur berbukit dan dimanfaatkan dengan sangat baik, dalam aplikasi sungai-sungai yang mengalir, pedestrian-pedestrian.   Selain itu kontur dari site ini sangat mendukung pengunjung untuk menikmati view menuju site.  Pengunjung dapat menikmati view yang naik perlahan2 dari entrance, lalu rumah-rumah tradisional , hingga ke bukit dan gunung Namsan.  Site yang berkontur juga mendukung view dari site menuju kota, pada gazebo XXX pengunjung dapat menikmati pemandangan menuju kota, dimana rumah tradisional langsung bertemu dengan gedung-gedung tinggi perkotaan.  Membuat pengunjung benar-benar merasakan desa ditengah kota.


 Salah satu best view yang terdapat di site tersebut adalah site menuju gunung Namsan , terutama pada musim semi dimana pohon-pohon berwarna warni dengan bunga-bunga sakura bermekaran.  Best view lainnya ialah vew dari pucak tertinggi Namsangol Hanok Village , melihat pemandangan  kontur site yang menurun dan langsung bertemu dengan kota, dimana rumah tradsional langsung bertemu dengan gedung-gedung tinggi perkotaan.  Feel dari desa ditengah kota sunggu berasa

Minggu, 04 Juni 2017

PERTAHANAN NASIONAL

PENGERTIAN
Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa, meliputi seluruh aspek kehidupannasional yang terintegrasi, berisi keuletan, dan ketangguhan serta mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan, serta gangguan dari luar maupun dari dalam, langsung maupun tidak langsung membahayakan integrasi, identitas, kelangsungan hidupbangsa dan negara , serta perjuangan mengejar tujuan nasionalnya.

KEDUDUKAN DAN FUNGSI KETAHANAN NASIONAL
Kedudukan :
ketahanan nasional merupakan suatu ajaran yang diyakini kebenarannya oleh seluruh bangsa Indonesia serta merupakan cara terbaik yang perlu di implementasikan secara berlanjut dalam rangka membina kondisi kehidupan nasional yang ingin diwujudkan, wawasan nusantara dan ketahanan nasional berkedudukan sebagai landasan konseptual, yang didasari oleh Pancasila sebagai landasan ideal dan UUD sebagai landasan konstisional dalam paradigma pembangunan nasional.
Fungsi :
Ketahanan nasional nasional dalam fungsinya sebagai doktrin dasar nasional perlu dipahami untuk menjamin tetap terjadinya pola pikir, pola sikap, pola tindak dan pola kerja dalam menyatukan langkah bangsa yang bersifat inter – regional (wilayah), inter – sektoral maupun multi disiplin. Konsep doktriner ini perlu supaya tidak ada cara berfikir yang terkotak-kotak (sektoral). Satu alasan adalah bahwa bila penyimpangan terjadi, maka akan timbul pemborosan waktu, tenaga dan sarana, yang bahkan berpotensi dalam cita-cita nasional. Ketahanan nasional juga berfungsi sebagai pola dasar pembangunan nasional. Pada hakikatnya merupakan arah dan pedoman dalam pelaksanaan pembangunman nasional disegala bidang dan sektor pembangunan secara terpadu, yang dilaksanakan sesuai dengan rancangan program.

ASAS KETAHANAN NASIONAL
Asas Ketahanan Indonesia adalah taat laku berdasarkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, dan Wawasan Nusantara, yang terdiri dari :

1. Asas Kesejahteraan dan Keamanan
Kesejahteraan dan kemakmuran dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan dan merupakan kebutuhan manusia yang mendasar dan esensial.. Kesejahtrean maupun keamanan harus selalu ada, berdampingan pada kondisi apa pun. Dalam kehidupan nasional, tingkat kesejahteraan dan keamanan nasional yang dicapai merupakan tolok ukur Ketahanan Nasional
2. Asas Menyeluruh Terpadu                    
Sistem kehidupan nasional mencakup segenap aspek kehidupan bangsa dalam bentuk perwujudan persatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi dan selaras pada seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ketahanan Nasional mencakup ketahanan segenap aspek kehidupan bangsa secara utuh, menyeluruh dan terpadu (komprehensif intergral).
3. Asas Mawas ke Dalam da Mawas ke Luar
a. Mawas ke Dalam
Mawas ke dalam bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat, dan kondisi kehidupan nasional itu sendiri berdasarkan nilai-nilai kemadirian yang proporsional untuk meningkatkan kualitas derajat kemandirian bangsa yang ulet dan tangguh.
b. Mawas ke Luar
Mawas Ke luar bertujuan untuk dapat mengantisipasi dan berperan serta mengatasi dampak lingkungan stategis luar negeri dan menerima kenyataan adanya interaksi dan ketergantungan dengan dunia internasional.
4. Asas Kekeluargaan
Asas kekeluargaan mengandung keadilan, kearifan kebersamaan, kesamaan, gotong royong, tenggang rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Perbedaan tersebut harus dikembangkan secara serasi dalam hubungan kemitraan agar tidak berkembangkan menjadi konflik yang bersifat saling menghancurkan.

SIFAT KETAHANAN NASIONAL
1. Mandiri
Ketahanan Nasional percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri serta pada keuletan dan ketangguhan, yang mengandung prinsip tidak mudah menyerah, dengan tumpuan pada identitas, integritas dan kepribadian bangsa. Kemandirian (idenpendency) ini merupakan prasyarat untuk menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dalam perkembangan global (interdependent).
2. Dinamis
Ketahanan Nasional tidaklah tetap. Ia dapat meningkat atau menurun, tergantung pada situasi dan kondisi bangsa, Negara serta lingkungan strategisnya. Karena itu, upaya peningkatan Ketahanan Nasional harus senantiasa diorientasikan ke masa depan dan dinamikanya diarahkan untuk pencapaian kondisi kehidupan nasional yang lebih baik.
3. Wibawa
Keberhasilan pembinaan Ketahanan Nasional Indonesia secara lanjut dan berkesinambungan akan meningkatkan kemampuan dan keseimbangan akan meningkatkan kemampuan dan kekuatan bangsa. Makin tinggi tingkat Ketahanan Nasional Indonesia makin tinggi pula nilai kewibawaan dan tingkat daya tangkal yang dimiliki oleh bangsa dan negara Indonesia.
4. Konsultasi dan Kerjasama
Konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia tidak mengutamakan sikap konfrontatif dan atagonistis, ataupun kekuasaan dan kekuata fisik semata, tetapi lebih mengutamakan sikap konsultatif, kerjasama serta saling menghargai dengan mengandalkan kekuatan, moral dan kepribadian bangsa.

KONSEPSI KETAHANAN NASIONAL
Konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan terpadu berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dan wawasan nusantara dengan kata lain konsepsi ketahanan nasional merupakan pedoman untuk meningkatkan keuletan dan ketangguhan bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dengan pendekatan kesejahteraan dan keamanan.
a.  Aspek Ekonomi
Ketahanan Ekonomi diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan perekonomian bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang egara dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung untuk menjamin kelangsungan perekonomian bangsa dan egara berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
b.    Aspek Sosial Budaya
Ketahanan sosial budaya diartikan sebagai kondisi dinamis budaya Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan sosial budaya.
c.    Aspek Pertahanan dan Keamanan
Ketahanan pertahanan dan keamanan diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan pertahanan dan keamanan bangsa Indonesia mengandung keuletan, ketangguhan, dan kemampuan dalam mengembangkan, menghadapi dan mengatasi segala tantangan dan hambatan yang datang dari luar maupun dari dalam yang secara langsung maupun tidak langsung membahayakan identitas, integritas, dan kelangsungan hidup bangsa dan negara Kesatuan Republik Indonesia.
d.   Aspek Politik
Ketahanan pada aspek politik diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan politik bangsa Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung untuk menjamin kelangsungan kehidupan politik bangsa dan negara Republik Indonesia berdasar Pancasila dan UUD 1945.
e.   Aspek Ideologi
Dapat diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan ideologi bangsa Indonesia. Ketahanan ini diartikan mengandung keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan ideologi bangsa dan negara Indonesia.

STUDI KASUS

Pada awal tahun 1960an pada kalangan militer angkatan darat di SSKAD yang sekarang bernama SESKOEAD (Sunardi, 1997) masa itu adalah sedang meluasnya pengaruh komunisme yang berasal dari Uni Soviet dan Cina. Pengaruh komunisme menjalar sampai kawasan Indo Cina sehingga satu persatu kawasan Indo Cina menjadi Negara komunis, seperti Laos, Vietnam, dan Kamboja. Bahkan infiltrasi komunis mulai masuk ke Thailand, Malaysia, dan Singapura.
         Concern atas fenomena tersebut, para pemikir militer di SSKAD mengadakan pengamatan atas kejadian tersebut. Bahwa tidak adanya perlawanan yang gigih dan ulet di Indo Cina dalam menghadapi ekspansi komunis. Jika dibandingkan dengan Indonesia, kekuatan apa yang dimiliki bangsa ini sehingga mampu menghadapi berbagai ancaman termasuk pemberontakan dalam negeri. Jawaban sementara dari kalangan pemikir tersebut adalah adanya kemampuan territorial dan perang gerilya.
         Tahun 1960an terjadi gerakan komunis di Filipina, Malaysia, singapura dan Thailand. Bahkan gerakan komunis Indonesia berhasil mengadakan pemberontakan pada 30 September 1965, tetapi bakhirnya dapat diatasi. Menyadari atas berbagai kejadian tersebut, semakin memperkuat gagasan pemikiran tentang kekuatan apa yang seharusnya ada dalam masyarakat dan bangsa Indonesia agar kedaulatan dan keutuhan bangsa Negara Indonesia terjamin dimaa mendatang.
        Pengembangan atas pemikiran awal tersebut semakin kuat setelah berakhirnya gerakan G 30 S PKI. Pada tahun 1968, pemikiran di lingkungan SSKAD tersebut dilanjutkan oleh lemhanas (lembaga pertahanan nasional)
Telah ada kemajuan konseptual pemikiran Lemhanas tahun 1968 tersebut berupa ditemukannya unsur-unsur dari tata kehidupan nasional yang berupa ideologi, politik, ekonomi, social, dan militer. Pada tahun 1969 lahirlah istilah KETAHANAN NASIONAL yang menjadi pertanda dari ditinggalkannya konsep kekuatan, meskipun dalam Ketahanan Nasional sendiri terdapat konsep kekuatan. Konsepsi Ketahanan Nasional waktu itu dirumuskan sebagai keuletan dan daya tahan suatu bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional yang ditujukan untuk menghadapi segala ancaman dan kekuatan yang membahayakan kelangsungan hidup Negara dan bangsa Indonesia. Kata “segala” menunjukan kesadaran akan spectrum ancaman yang lebih dari sekedar ancaman komunis dan/pemberontakan.

Source: http://gilatugas.blogspot.co.id/p/ketahanan-nasional.html

Minggu, 30 April 2017

WAWASAN NUSANTARA DAN KASUS INTOLERANSI

 Secara umum, Pengertian Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa indonesia mengenai diri dan bentuk geografisnya menurut Pancasila dan UUD 1945 dalam mengutamakan kesatuan wilayah dan menghargai kebhinekaan untuk mencapai tujuan nasional.
Tap MPR Tahun 1993 dan 1998 Tentang GBHN, Pengertian wawasan nusantara menurut definisi Tap MPR tahun 1993 dan 1998 tentang GBHN adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.

FUNGSI WAWASAN NUSANTARA
1.   Fungsi Wawasan Nusantara Secara umum  berfungsi sebagai pedoman, motivasi, dorongan serta rambu-rambu dalam menentukan segala kebijaksanaan, keputusan, tindakan, dan perbuatan bagi penyelenggaraan Negara di pusat dan daerah maupun bagi seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.
2.  Fungsi Wawasan Nusantara dibedakan dalam beberapa pandangan antara lain sebagai berikut..
·         Sebagai konsepsi ketahanan nasional adalah sebagai konsep dalam pembangunan, pertahanan keamanan dan kewilahayan
·         Sebagai pembangunan nasional adalah mencakup kesatuan politik, sosial dan ekonomi, sosial dan politik, dan kesatuan pertahanan dan keamanan.
·         Sebagai pertahanan dan keamanan adalah pandangan geopolitik Indonesia sebagai satu kesatuan pada seluruh wilayah dan segenap kekuatan negara.
·         Sebagai wawasan kewilayahan adalah pembatasan negara untuk menghindari adanya sengketa antarnegara tetangga

TUJUAN WAWASAN NUSANTARA
Tujuan wawasan nusantara adalah mewujudkan nasionalisme yang tinggi dari segala aspek kehidupan rakyat indonesia yang mengutamakan kepentingan nasional dari pada kepentingan perorangan, kelompok, golongan, suku bangsa atau daerah. Kepentingan tersebut tetap dihargai agar tidak bertentangan dari kepentingan nasional.

LATAR BELAKANG WAWASAN NUSANTARA
a)      Falsafah Pancasila, Pancasila merupakan dasar dalam terjadinya wawasan nusantara dari nilai nilai yang terdapat dalam Pancasila. Nilai-nilai tersebut antara lain sebagai berikut.
a.       Penerapan HAM (Hak Asasi Manusia). misalnya pemberian kesempatan dalam menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya.  
b.      Mengutamakan pada kepentingan masyarakat dari pada kepentingan indivud dan golongan
c.       Pengambilan keputusan berdasarkan dalam musyawarah mufakat.
b)      Aspek Kewiilayahan Nusantara, aspek kewilayahan nusantara dalam hal ini pada pengaruh geografi karena indonesia kaya akan SDA dan suku bangsa
c)      Aspek Sosial Budaya, aspek sosial budaya dimana dalam hal ini dapat terjadi karena indonesia terdapat ratusan suku bangsa yang keseluruhan memiliki adat istiadat, bahasa, agama dan kepercayaan yang berbeda-beda, yang menjadikan tata kehidupan nasional memiliki hubungan interaksi antara golongan karena dapat menyebabkan konflik yang besar dari keberagaman budaya.
d)      Aspek Sejarah,  Dapat mengacuh kepada aspek sejarah karena indonesia memiliki banyak pengalaman sejarah yang tidak ingin terulangnya perpecahan dalam bangsa dan negara Indonesia. Dimana kemerdekaan yang didapatkan merupakan hasil semangat persatuan dan kesatuan bangsa indonesia, sehingga harus dipertahankan untuk persatuan bangsa dan menjaga wilayah kesatuan Indonesia

STUDI KASUS : INTOLERANSI AGAMA DI INDONESIA
Tanggal 6 Desember lalu di Bandung terjadi aksi pembubaran paksa acara kebaktian di kompleks Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Kemudian sehari setelahnya, ada penurunan paksa baliho Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta karena menampilkan sosok mahasiswi berjilbab pada iklan penerimaan mahasiswa baru kampus itu.

Selang tiga hari setelah insiden tersebut, sembilan warga Muslim yang datang ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, untuk mengikuti acara keagamaan di Atambua, Belu, diusir oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Brigade Meo Timor.

Kapolda NTT Brigjen Widyo Sunaryo kepada pers, Sabtu (10/12) mengatakan sembilan orang itu memang tidak melanggar aturan hukum apa pun, tetapi mengingat “apa yang terjadi baru-baru ini di Jakarta dan Bandung” maka polisi dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sepakat memulangkan mereka.

Dan lima hari terakhir ini aksi “sosialisasi” fatwa MUI oleh beberapa organisasi massa, antara lain Front Pembela Islam (FPI), terjadi di sejumlah restoran dan pusat perbelanjaan di Bekasi, Solo, Yogyakarta dan Surabaya. Mengapa aksi intoleransi kembali marak terjadi?

Intoleransi dalam Tahap Darurat

Menurut pengamat politik Al Chaidar dari Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe di Aceh, fenomena ini merupakan bagian dari apa yang disebutnya sebagai “kebangkitan konservatisme”.

“Hal ini sepertinya merupakan perluasan dari kebangkitan konservatisme yang sedang terjadi di Timur Tengah dan sekitarnya. Ada semangat untuk melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam secara kaffah atau total dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya kepada VOA, Senin (19/12)

"Mereka kerap mewujudkannya dengan cara yang mengejutkan, seperti tindakan sweeping atau razia berdasarkan fatwa semata tanpa mengindahkan prinsip hidup berdampingan secara damai dengan masyarakat lain. Atau lewat gerakan purifikasi, dengan sama sekali menolak nilai-nilai, infrastruktur atau produk yang mereka anggap menyimpang."

Berita intoleransi agama semakin kita dengar dalam media-media dan menjadi isu sensitive dalam masyarakat.  Jika kita mencoba melihat hubungan antara kasus-kasus intoleransi agama dan wawasan nusantara, kita dapatmelihat kurangnya wawasan nusantara dalam masyarakat. Kurang melihat lagi, pola pandangan seperti apa yang seharusnya dimiliki masyarakat yang dicita-citakan oleh pelopor-pelopor bangsa Indonesia.  Memang, dengan semakin berkembangnya teknologi dan masyarakat dapat mendapat informasi dengan cepat,makin mudah masyrakat lebih menyukai hal-hal instan, termasuk dalam informasi dan wawasan.  Kebiasaan untuk menyaring informasi dan berpikir lebih dalam terhadap kasus-kasus lebih jarang dilaksanakan

Semakin sering kita melihat masyarakat lebih bersikap individu dan lebih lagi, memaksakan pemikiran nya, keindividuan nya kepada orang lain.  Bahkan sikap dan pandangan seperti ini semkain meluas di media social.  Cukup sering terjadi saat adanya sharing cuplikan mengenai toleransi-toleransi yang terjadi dan di alami oleh berbagai warganet, banyak warganet lain yang lebih menyoroti mengenai bagaimana agama-agama tertentu harusnya dijalankan dibandingkan dengan sikap-sikap toleransi yang seharusnya dipelihara oleh masyarakat.  Jika masyarakat terus-menerus tidak memahami pandangan seperti apa yang seharusnya dimiliki bangsa Indonesia, maka tujuan dari wawasan nusantara semakin jauh dari jangkauan kita.



Source
http://www.voaindonesia.com/a/intoleransi-di-indonesia-darurat/3643180.html